Limbah B3 Merenggut Urat Nadi Kehidupan Nelayan, HNSI Batam Lapor ke Polda
![]() |
| Kapal LCT MGS pengangkut limbah minyak hitam yang mengandung Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), kandas di Perairan Pulau Dangas. |
Batam – Tumpahan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dari Kapal Landing Craft Tank (LCT) Mutiara Garlib Samudera di perairan Pulau Dangas mengoyak keras kehidupan nelayan Kota Batam.
Lebih kurang sebanyak 7.000 ribu nelayan di 6 Kecamatan terdampak langsung akibat dari pencemaran limbah B3 yang menyebar mengikuti arah arus laut hingga hampir menyelimuti permukaan perairan wilayah Kota Batam.
Harapan nelayan kian pupus lantaran sudah lebih sepekan namun hingga kini belum ada kepastian hukum maupun tanggung jawab dari pihak Kapal LCT MGS.
Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Batam pun bersiap menegakkan keadilan nelayan membawa persoalan ini ke ranah pidana.
Ketua DPC HNSI Kota Batam, Muslimin menyebutkan bahwa HNSI Kota Batam akan melaporkan kasus pencemaran laut tersebut ke Polda Kepri dalam minggu ini. Langkah itu diambil lantaran persoalan terus dibiarkan mengambang, sementara perekonomian nelayan kian melemah akibat terus menanggung kerugian.
“Sudah berjalan seminggu namun belum ada kepastian dari pihak manapun. Ngambang terus. Oleh karena itu kita mengambil sikap tegas dalam minggu ini akan buat laporan ke Polda,”. Terangnya Muslimin selaku Ketua HNSI Batam, Rabu, (11/02/2026).
![]() |
| Tampak dari depan Kapal pengangkut limbah B3 LCT MGS kandas di perairan Dangas. |
Laporan tengah dipersiapkan HNSI dan rencananya akan disampaikan langsung oleh jajaran pengurus, mulai dari Ketua, Litbang, hingga Sekretaris Jenderal HNSI Kota Batam.
Limin menyebut penanganan kasus ini semestinya sudah menjadi atensi aparat penegak hukum, termasuk Ditpolairud.
‘‘Ini kan sudah ranah Polda yang menyikapi, mungkin dari Polairud, akan tetapi sampai sekarang belum ada tanggapan dari perusahaan, sementara nelayan kita butuh kepastian,’’ Ucapnya.
Sementara itu, Kapal Landing Craft Tank (LCT) Mutiara Garlib Samudera, saat ini sudah tidak lagi berada di lokasi. Kapal tersebut bahkan dikabarkan telah berpindah-pindah.
“Kapal yang menjadi sumber tumpahan limbah B3 itu sudah digeser ke mana-mana, tidak ada lagi di lokasi dan Ini yang bikin nelayan semakin resah ,” Kata limin.
Dalam laporan ke Polda nanti, HNSI akan menuntut kejelasan penanggung jawab dari pihak kapal. Menurut Limin, nelayan tidak bisa terus dibiarkan menunggu tanpa kepastian, sementara dampak pencemaran semakin meluas.
“Poinnya kita minta penanggung jawab pihak kapal. Jangan berlarut-larut. Harus ada titik terang buat nelayan. Kasihan nelayan kita, sudah susah nangkap ikan gara-gara limbah B3 ini,” tegasnya.
Tumpahan limbah B3 tersebut telah memukul keras kehidupan nelayan di enam kecamatan di Kota Batam, yakni Sekupang, Belakang Padang, Bulang, Lubuk Baja (Tanjung Uma), Batu Ampar, serta Batu Besar–Nongsa. HNSI mencatat sedikitnya sekitar 7.000 nelayan terdampak langsung, dengan kondisi terparah dialami nelayan Sekupang dan Belakang Padang.
“Kalau dijumlahkan sekitar 7.000-an nelayan. Tapi yang paling parah itu Sekupang dan Belakang Padang,” Ungkapnya Limin.
Dampak paling terasa dialami nelayan dingkis, ikan musiman bernilai ekonomi tinggi yang biasanya menjadi andalan menjelang Imlek. Namun, pencemaran justru terjadi di momen krusial tersebut.
“Kelong mereka tidak ada ikan. Minyak mengalir ke jaring, ke tiang-tiang kayu. Dingkis ini sangat sensitif, kena bau minyak saja tidak mau masuk,” Sebutnya.
Saat ini kondisi di lapangan bukan lagi sekadar penurunan hasil tangkapan, melainkan nihil produksi bagi banyak nelayan.“Bukan turun lagi, sudah tidak ada hasil,” ucap Limin.
HNSI memperkirakan produksi dingkis tahun ini anjlok hingga 70 persen dibandingkan tahun lalu. Jika sebelumnya nelayan bisa meraup ratusan kilogram hingga hitungan ton per hari, kini hasil tersebut nyaris tak ada.
Tak hanya nelayan musiman, nelayan harian juga ikut terdampak. Minyak yang mengikuti pasang surut air laut menempel di bebatuan dan perairan dangkal, memperparah pencemaran.
“Kalau air surut, minyak nempel di batu. Pas air pasang, kena lagi. Dampaknya bukan sebentar, bisa dua sampai tiga tahun baru pulih,” tutupnya.
Bagi masyarakat nelayan pesisir Batam, laut adalah urat nadi kehidupan, kejadian ini langsung memukul sektor perikanan tangkap.
Ribuan nelayan kini hanya bisa menatap hamparan laut yang menghitam. Mereka menuntut pertanggungjawaban penuh dari perusahaan pemilik kapal atas kerugian ekonomi yang mereka alami.
OKK-DPC HNSI Anambas


Posting Komentar